
letter from editor in chief
Tabe’, Cess….
Macet. Apa yang bisa diingat dari kemacetan? Hanya perasaan dongkol, sebal, marah. Belum lagi panas atau banjir, debu, becek, berasap..
Tapi kemacetan tak hanya di jalan. Saat berkarya pun, ide-ide, buah pikiran serta gagasan yang semula lancar mengalir, mendadak terhenti. Bingung. Pusing. Bahkan putus asa. Belum lagi waktu yang mengejar, target yang mendesak…
Macet di jalan mungkin karena kendaraan yang terlalu banyak sementara badan jalan sempit atau tak muat lagi.
Cesser, siapapun dan apapun bisa mengalami kemacetan. Semangat yang meledak-ledak tapi tak dibarengi dengan pengetahuan yang cukup bisa jadi penyebab macet atau mandegnya suatu karya. Sebaliknya dengan pengetahuan, suatu ide bisa mengalir lancar. Tak percaya? Tanyakan pada kawan-kawan kita di SMA 5, bagaimana mereka bisa punya ide menanam jamur merang di atas kertas jika tidak punya pengetahuan mengenai nutrisi apa saja yang dibutuhkan sang tanaman untuk tumbuh? Atau bertanyalah kepada Rezky seberapa pentingnya membaca untuk mendapatkan pengetahuan.
Macet. Jadi apa yang bisa diingat dari kemacetan? Bahwa Makassar kini sudah seperti
Tapi macet, masih ada yang bisa diingat darinya. Mesti ada kesabaran. Juga toleransi, pengendalian diri, tidak buru-buru, pertimbangan yang matang, pengetahuan yang luas. Agar sesuatu, juga karya positif, tetap bisa mengalir lancar… (sekali lagi, kami hadir hanya punya satu misi: sekedar menyumbangkan karya nyata).
Selamat membaca,
Oki Syafruddin

2 komentar:
semua yang saat ini besar bermula dari sesuatu yang kecil. maka yakinlah bahwa kalian juga kelak akan menjadi besar, asal kontinyu dan terus berupaya maksi.
tapi ingat, ketika kerjaan sudah mulai tumbuh jangan coba2 untuk dijual ke pihak lain. sebab anda hanya akan merugi.
sukses ya om oki ! saya bangga banget punya teman seperti om, yang dari sma kreatif. kapan kapan ajarin sy juga ya bagaimana caranya ber bisnis yang baik.
Posting Komentar